Selasa, 15 Januari 2013

Al Indhibath (Kedisiplinan)

1. #Al-Indhibath (disiplin) adalah salah satu sikap dasar yang dimiliki oleh seorang kader dakwah

2. #Al-Indhibath berarti berkomitmen terhadap hal-hal yang mengikat dirinya utk berbuat sesuatu

3. Dien ini telah banyak mengajarkan kita ttg #al-indhibath. Di antaranya adalah perintah shalat tepat waktu dan perintah berjamaah dengan mengikuti imam.

4. Ada lima macam #al-indhibath. Pertama, #Al-Indhibath As Syar’y (disiplin terhadap aturan syar’i)

5. Seorang kader dakwah harus disiplin pada aturan yang telah ditetapkan Allah SWT. Aturan tersebut harus mengikat dirinya. Agar ia tidak sembrono dalam berbuat. 

6. Dengan sikap ini,  seorang kader dakwah mentaati rambu-rambu yang disinyalkan kepadanya. Kepahaman yang utuh dan baik akan menjaga kader dakwah dari penyimpangan syar’i. 

7. Oleh sebab itu kader dakwah ini patut untuk meningkatkan kepahaman syar’inya. Sehingga tidak terjerumus pada perbuatan yang melanggar ketentuan itu.

8. Kedua, #Al-Indhibath Al Khuluqy (disiplin perilaku atau akhlaq).

9. Disiplin pada akhlaq Islam sebagai wujud dari keimanannya. Karena kesempurnaan iman seorang mukmin adalah mereka yang paling baik akhlaqnya. 

10. Kader dakwah yang senantiasa menjaga norma perilakunya akan menjadi pintu gerbang simpati dan ketertarikan umat pada dakwah ini. Bukankah modal besar Rasulullah SAW. 

11. Dalam dakwahnya juga dari norma perilaku beliau yang sangat menawan hati. Hingga beliau mendapatkan gelar al amin, orang yang tepercaya. 

12. Ketiga, #Al-Indhibath Al Amaly (disiplin amal)

13. Disiplin dalam melakukan sesuatu secara sistematis tidak serampangan apalagi tak beraturan. 

13. Imam Hasan Al Banna menyatakan at tabkir kat ta’khir (orang yang datang lebih-lebih awal sama seperti orang yang datang terlambat). 

14. Ungkapan untuk mengingatkan kita agar disiplin amal yang tidak merugikan orang lain. Bagi mereka yang datang lebih-lebih awal kadang merepotkan orang yang didatangi. 

15. Dan orang yang hadir terlambat menzhalimi hak orang yang datang terdahulu.

16. Disiplin Amal juga mampu menata tugas-tugasnya dengan baik. Dengan itu tidak ada tugas-tugas yang molor apalagi tidak tertuntaskan. 

17. Karena itu Rasulullah SAW. memotivasi dengan sabdanya:
“Allah SWT. menyukai amal salah seorang di antaramu yang rapih amalnya”.

18. Dan amal yang tertata baik berimplikasi pada produktivitas dan nuansa orang yang melakukannya.

19. Keempat, #Al-Indhibath At Tarbawi (disiplin tarbiyah)

20. Disiplin dalam bertarbiyah maknanya adalah terus membina diri untuk mencapai keshalihah pribadi dan sosial dengan menerapkan aturan manhaj secara tepat dan pas.

21. Kedisiplinan ini berawal dari komitmen bahwa tarbiyah amal prioritas dari amalan lainnya. Agar mampu mengokohkan bangunan keterikatan dan keterlibatan dalam amal tarbawi ini.

22. Bila kelonggaran dalam tarbiyah, ditolerir terus menerus maka keutuhan tarbiyah ini dapat runtuh. Bahkan imbasannya mungkin tertular pada amal lainnya. 

23. Firman Allah SWT.:
“Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik”. (Al-Baqarah: 195).

24. Kelima, #Al-Indhibath At Tanzhimy (disiplin struktural).

25. Disiplin pada ketentuan yang dikeluarkan oleh struktural. Ketentuan tersebut menjadi kebijakan yang mengikat kader-kader yang berhimpun didalamnya. Dengan begitu seluruh sikap kader atas arahan yang menjadi kebijakan struktural. 

26. Tidak ‘mentil’ sendirian. Karena sikap semacam itu akan berakibat bagi yang lainnya dan tanzhim secara langsung. 

27. Akan tetapi sikap ini tidaklah mempersempit kader dakwah melakukan kreativitas dan inovasi. Sebab dua hal ini juga disarankan ajaran ini kepada seluruh muslim. Agar dua hal yang berbeda itu berada pada posisinya secara seimbang.

28. Kader dakwah yang disiplin dengan segala kaitannya dapat membentuk pribadi yang memiliki Quwwatul Intima’i (loyalitas kuat). 

29. Hal ini sebagai sikap yang amat prinsipil. Lantaran dari situlah prestise keimanan terbentuk menjadi bangunan yang kuat dalam sanubari seorang mukmin. 

30. Bila demikian halnya kader dakwah mampu mengemban amanah yang diserahkan pada dirinya. Kemudian melaksanakannya dengan segera.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar