Selasa, 19 April 2011

PERGERAKAN MAHASISWA DARI MASA KE MASA


Oleh
Dany Agustian
 
 Mahasiswa, generasi asing yang menjadi pelita di sebuah kegelapan peradaban ini. Pakaiannya usang, namun ruhnya selalu baru. Secercah harapan bagi Bangsa Indonesia. Sebuah coretan tinta di lembar sejarah peradaban Indonesia. Sambut pekikan kemenangan kita, Hidup Mahasiswa!”

Gerakan mahasiswa di Indonesia adalah kegiatan kemahasiswaan yang ada di dalam maupun di luar perguruan tinggi yang dilakukan untuk meningkatkan kecakapan, intelektualitas dan kemampuan kepemimpinan para aktivis yang terlibat di dalamnya. Dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia, gerakan mahasiswa seringkali menjadi cikal bakal perjuangan nasional, seperti yang tampak dalam lembaran sejarah bangsa.

Sejarah telah menyaksikan berbagai peristiwa besar di dunia yang tidak lepas dari aktor intelektual di belakangnya. Kaum intelektual yang diwakili masyarakat kampus termasuk juga mahasiswa sering menjadi penggagas utama dalam setiap perubahan. Kita tentu ingat founding father bangsa ini juga berasal dari kampus, bagaimana Soekarno, Muh. Hatta, Syahrir, Muh. Natsir berangkat dari dunia kampus untuk memberikan gagasan-gagasan mereka yang ingin mengangkat bangsa Indonesia dari keterpurukan. Kita paham betul mahasiswa adalah salah satu representasi masyarakat terdidik yang paling utama. Mereka ditempa dan saling berdialektika dalam suatu dunia yang bernama “ dunia kampus”, dan dari tempat semacam ini Insya Allah akan terbentuk basis intelektual yang mapan.

Bangsa ini merindukan sentuhan mahasiswa yang terpanggil jiwanya untuk ikut memberikan kontribusi yang nyata, maka gerakan mahasiswa hadir dalam rangka tersebut. Gerakan mahasiswa hanya ingin menyumbangkan goresan tinta mereka dalam sebuah lukisan yang bernama Indonesia. Mewujudkan idealisme yang masih murni tanpa ada kepentingan apapun. Apalagi di era demokrasi ini mahasiswa punya andil penting dalam check and balances pemerintahan. Mahasiswa merupakan pilar kelima setelah pers/media massa dalam lima pilar demokrasi.

A.      Kemarin

1908

Boedi Oetomo, merupakan wadah perjuangan yang pertama kali memiliki struktur pengorganisasian modern. Didirikan di Jakarta, 20 Mei 1908 oleh pemuda-pelajar-mahasiswa dari lembaga pendidikan STOVIA, wadah ini merupakan refleksi sikap kritis dan keresahan intelektual terlepas dari primordialisme Jawa yang ditampilkannya. Pada kongres yang pertama di Yogyakarta, tanggal 5 Oktober 1908 menetapkan tujuan perkumpulan : Kemajuan yang selaras buat negeri dan bangsa, terutama dengan memajukan pengajaran, pertanian, peternakan dan dagang, teknik dan industri, serta kebudayaan.

Dalam 5 tahun permulaan BU sebagai perkumpulan, tempat keinginan-keinginan bergerak maju dapat dikeluarkan, tempat kebaktian terhadap bangsa dinyatakan, mempunyai kedudukan monopoli dan oleh karena itu BU maju pesat, tercatat akhir tahun 1909 telah mempunyai 40 cabang dengan 10.000 anggota. Disamping itu, para mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di Belanda, salah satunya Mohammad Hatta yang saat itu sedang belajar di Nederland Handelshogeschool di Rotterdam mendirikan Indische Vereeninging yang kemudian berubah nama menjadi Indonesische Vereeninging tahun 1922, disesuaikan dengan perkembangan dari pusat kegiatan diskusi menjadi wadah yang berorientasi politik dengan jelas. Dan terakhir untuk lebih mempertegas identitas nasionalisme yang diperjuangkan, organisasi ini kembali berganti nama baru menjadi Perhimpunan Indonesia, tahun 1925.

Berdirinya Indische Vereeninging dan organisasi-organisasi lain,seperti: Indische Partij yang melontarkan propaganda kemerdekaan Indonesia, Sarekat Islam, dan Muhammadiyah yang beraliran nasionalis demokratis dengan dasar agama, Indische Sociaal Democratische Vereeninging (ISDV) yang berhaluan Marxisme, menambah jumlah haluan dan cita-cita terutama ke arah politik. Hal ini di satu sisi membantu perjuangan rakyat Indonesia, tetapi di sisi lain sangat melemahkan BU karena banyak orang kemudian memandang BU terlalu lembek oleh karena hanya menuju "kemajuan yang selaras" dan terlalu sempit keanggotaannya (hanya untuk daerah yang berkebudayaan Jawa) meninggalkan BU. Oleh karena cita-cita dan pemandangan umum berubah ke arah politik, BU juga akhirnya terpaksa terjun ke lapangan politik.

Kehadiran Boedi Oetomo,Indische Vereeninging, dll pada masa itu merupakan suatu episode sejarah yang menandai munculnya sebuah angkatan pembaharu dengan kaum terpelajar dan mahasiswa sebagai aktor terdepannya, yang pertama dalam sejarah Indonesia : generasi 1908, dengan misi utamanya menumbuhkan kesadaran kebangsaan dan hak-hak kemanusiaan dikalangan rakyat Indonesia untuk memperoleh kemerdekaan, dan mendorong semangat rakyat melalui penerangan-penerangan pendidikan yang mereka berikan, untuk berjuang membebaskan diri dari penindasan kolonialisme.

 

1928

Pada pertengahan 1923, serombongan mahasiswa yang bergabung dalam Indonesische Vereeninging (nantinya berubah menjadi Perhimpunan Indonesia) kembali ke tanah air. Kecewa dengan perkembangan kekuatan-kekuatan perjuangan di Indonesia, dan melihat situasi politik yang di hadapi, mereka membentuk kelompok studi yang dikenal amat berpengaruh, karena keaktifannya dalam diskusi kebangsaan saat itu. Pertama, adalah Kelompok Studi Indonesia (Indonesische Studie-club) yang dibentuk di Surabaya pada tanggal 29 Oktober 1924 oleh Soetomo. Kedua, Kelompok Studi Umum (Algemeene Studie-club) direalisasikan oleh para nasionalis dan mahasiswa Sekolah Tinggi Teknik di Bandung yang dimotori oleh Soekarno pada tanggal 11 Juli 1925.

Diinspirasi oleh pembentukan Kelompok Studi Surabaya dan Bandung, menyusul kemudian Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia (PPPI), prototipe organisasi yang menghimpun seluruh elemen gerakan mahasiswa yang bersifat kebangsaan tahun 1926, Kelompok Studi St. Bellarmius yang menjadi wadah mahasiswa Katolik, Cristelijke Studenten Vereninging (CSV) bagi mahasiswa Kristen, dan Studenten Islam Studie-club (SIS) bagi mahasiswa Islam pada tahun 1930-an.

Dari kebangkitan kaum terpelajar, mahasiswa, intelektual, dan aktivis pemuda itulah, munculnya generasi baru pemuda Indonesia yang memunculkan Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928. Sumpah Pemuda dicetuskan melalui Konggres Pemuda II yang berlangsung di Jakarta pada 26-28 Oktober 1928, dimotori oleh PPPI.

 

1945

Dalam perkembangan berikutnya, dari dinamika pergerakan nasional yang ditandai dengan kehadiran kelompok-kelompok studi, dan akibat pengaruh sikap penguasa Belanda yang menjadi Liberal, muncul kebutuhan baru untuk menjadi partai politik, terutama dengan tujuan memperoleh basis massa yang luas. Kelompok Studi Indonesia berubah menjadi Partai Bangsa Indonesia (PBI), sedangkan Kelompok Studi Umum menjadi Perserikatan Nasional Indonesia (PNI).

Secara umum kondisi pendidikan maupun kehidupan politik pada zaman pemerintahan Jepang jauh lebih represif dibandingkan dengan kolonial Belanda, antara lain dengan melakukan pelarangan terhadap segala kegiatan yang berbau politik; dan hal ini ditindak lanjuti dengan membubarkan segala organisasi pelajar dan mahasiswa, termasuk partai politik, serta insiden kecil di Sekolah Tinggi Kedokteran Jakarta yang mengakibatkan mahasiswa dipecat dan dipenjarakan.

Praktis, akibat kondisi yang vacuum tersebut, maka mahasiswa kebanyakan akhirnya memilih untuk lebih mengarahkan kegiatan dengan berkumpul dan berdiskusi, bersama para pemuda lainnya terutama di asrama-asrama. Tiga asrama yang terkenal dalam sejarah, berperan besar dalam melahirkan sejumlah tokoh, adalah Asrama Menteng Raya, Asrama Cikini, dan Asrama Kebon Sirih. Tokoh-tokoh inilah yang nantinya menjadi cikal bakal generasi 1945, yang menentukan kehidupan bangsa.

Salah satu peran angkatan muda 1945 yang bersejarah, dalam kasus gerakan kelompok bawah tanah yang antara lain dipimpin oleh Chairul Saleh dan Soekarni saat itu, yang terpaksa menculik dan mendesak Soekarno dan Hatta agar secepatnya memproklamirkan kemerdekaan, peristiwa ini dikenal kemudian dengan peristiwa Rengasdengklok.

 

1966

Sejak kemerdekaan, muncul kebutuhan akan aliansi antara kelompok-kelompok mahasiswa, diantaranya Perserikatan Perhimpunan Mahasiswa Indonesia (PPMI), yang dibentuk melalui Kongres Mahasiswa yang pertama di Malang tahun 1947.
Selanjutnya, dalam masa Demokrasi Liberal (1950-1959), seiring dengan penerapan sistem kepartaian yang majemuk saat itu, organisasi mahasiswa ekstra kampus kebanyakan merupakan organisasi dibawah partai-partai politik. Misalnya, Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) dekat dengan PNI, Concentrasi Gerakan Mahasiswa Indonesia (CGMI) dekat dengan PKI, Gerakan Mahasiswa Sosialis Indonesia (Gemsos) dengan PSI, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) berafiliasi dengan Partai NU, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dengan Masyumi, dan lain-lain.

Diantara organisasi mahasiswa pada masa itu, CGMI lebih menonjol setelah PKI tampil sebagai salah satu partai kuat hasil Pemilu 1955. CGMI secara berani menjalankan politik konfrontasi dengan organisasi mahasiswa lainnya, bahkan lebih jauh berusaha mempengaruhi PPMI, kenyataan ini menyebabkan perseteruan sengit antara CGMI dengan HMI, terutama dipicu karena banyaknya jabatan kepengurusan dalam PPMI yang direbut dan diduduki oleh CGMI dan juga GMNI-khususnya setelah Konggres V tahun 1961.

Mahasiswa membentuk Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) tanggal 25 Oktober 1966 yang merupakan hasil kesepakatan sejumlah organisasi yang berhasil dipertemukan oleh Menteri Perguruan Tinggi dan Ilmu Pendidikan (PTIP) Mayjen dr. Syarief Thayeb, yakni HMI,PMII,Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI), Sekretariat Bersama Organisasi-organisasi Lokal (SOMAL), Mahasiswa Pancasila (Mapancas), dan Ikatan Pers Mahasiswa (IPMI). Tujuan pendiriannya, terutama agar para aktivis mahasiswa dalam melancarkan perlawanan terhadap PKI menjadi lebih terkoordinasi dan memiliki kepemimpinan.

Munculnya KAMI diikuti berbagai aksi lainnya, seperti Kesatuan Aksi Pelajar Indonesia (KAPI), Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia (KAPPI), Kesatuan Aksi Sarjana Indonesia (KASI), dan lain-lain.

Pada tahun 1965 dan 1966, pemuda dan mahasiswa Indonesia banyak terlibat dalam perjuangan yang ikut mendirikan Orde Baru. Gerakan ini dikenal dengan istilah Angkatan '66, yang menjadi awal kebangkitan gerakan mahasiswa secara nasional, sementara sebelumnya gerakan-gerakan mahasiswa masih bersifat kedaerahan. Tokoh-tokoh mahasiswa saat itu adalah mereka yang kemudian berada pada lingkar kekuasaan Orde Baru, di antaranya Akbar Tanjung, Cosmas Batubara Sofyan Wanandi, Yusuf Wanandi, dll. Angkatan '66 mengangkat isu Komunis sebagai bahaya laten negara. Gerakan ini berhasil membangun kepercayaan masyarakat untuk mendukung mahasiswa menentang Komunis yang ditukangi oleh PKI (Partai Komunis Indonesia). Setelah Orde Lama berakhir, aktivis Angkatan '66 pun mendapat hadiah yaitu dengan banyak yang duduk di kursi DPR/MPR serta diangkat dalam kabibet pemerintahan Orde Baru. Di masa ini ada salah satu tokoh yang sangat idealis,yang sampai sekarang menjadi panutan bagi mahasiswa-mahasiswa yang idealis setelah masanya,dia adalah seorang aktivis yang tidak peduli mau dimusuhi atau didekati yang penting pandangan idealisnya tercurahkan untuk bangsa ini,dia adalah soe hok gie

1974

Realitas berbeda yang dihadapi antara gerakan mahasiswa 1966 dan 1974, adalah bahwa jika generasi 1966 memiliki hubungan yang erat dengan kekuatan militer, untuk generasi 1974 yang dialami adalah konfrontasi dengan militer.

Sebelum gerakan mahasiswa 1974 meledak, bahkan sebelum menginjak awal 1970-an, sebenarnya para mahasiswa telah melancarkan berbagai kritik dan koreksi terhadap praktek kekuasaan rezim Orde Baru, seperti:

Diawali dengan reaksi terhadap kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM), aksi protes lainnya yang paling mengemuka disuarakan mahasiswa adalah tuntutan pemberantasan korupsi. Lahirlah, selanjutnya apa yang disebut gerakan "Mahasiswa Menggugat" yang dimotori Arif Budiman yang progaram utamanya adalah aksi pengecaman terhadap kenaikan BBM, dan korupsi.

Menyusul aksi-aksi lain dalam skala yang lebih luas, pada 1970 pemuda dan mahasiswa kemudian mengambil inisiatif dengan membentuk Komite Anti Korupsi (KAK) yang diketuai oleh Wilopo. Terbentuknya KAK ini dapat dilihat merupakan reaksi kekecewaan mahasiswa terhadap tim-tim khusus yang disponsori pemerintah, mulai dari Tim Pemberantasan Korupsi (TPK), Task Force UI sampai Komisi Empat.

Berbagai borok pembangunan dan demoralisasi perilaku kekuasaan rezim Orde Baru terus mencuat. Menjelang Pemilu 1971, pemerintah Orde Baru telah melakukan berbagai cara dalam bentuk rekayasa politik, untuk mempertahankan dan memapankan status quo dengan mengkooptasi kekuatan-kekuatan politik masyarakat antara lain melalui bentuk perundang-undangan. Misalnya, melalui undang-undang yang mengatur tentang pemilu, partai politik, dan MPR/DPR/DPRD.

Muncul berbagai pernyataan sikap ketidakpercayaan dari kalangan masyarakat maupun mahasiswa terhadap sembilan partai politik dan Golongan Karya sebagai pembawa aspirasi rakyat. Sebagai bentuk protes akibat kekecewaan, mereka mendorang munculnya Deklarasi Golongan Putih (Golput) pada tanggal 28 Mei 1971 yang dimotori oleh Arif Budiman, Adnan Buyung Nasution, Asmara Nababan.

Dalam tahun 1972, mahasiswa juga telah melancarkan berbagai protes terhadap pemborosan anggaran negara yang digunakan untuk proyek-proyek eksklusif yang dinilai tidak mendesak dalam pembangunan,misalnya terhadap proyek pembangunan Taman Mini Indonesia Indah (TMII) di saat Indonesia haus akan bantuan luar negeri.

Protes terus berlanjut. Tahun 1972, dengan isu harga beras naik, berikutnya tahun 1973 selalu diwarnai dengan isu korupsi sampai dengan meletusnya demonstrasi memprotes PM Jepang Kakuei Tanaka yang datang ke Indonesia dan peristiwa Malari pada 15 Januari 1974. Gerakan mahasiswa di Jakarta meneriakan isu "ganyang korupsi" sebagai salah satu tuntutan "Tritura Baru" disamping dua tuntutan lainnya Bubarkan Asisten Pribadi dan Turunkan Harga; sebuah versi terakhir Tritura yang muncul setelah versi koran Mahasiswa Indonesia di Bandung sebelumnya. Gerakan ini berbuntut dihapuskannya jabatan Asisten Pribadi Presiden.

 

1978

Setelah peristiwa Malari, hingga tahun 1975 dan 1976, berita tentang aksi protes mahasiswa nyaris sepi. Mahasiswa disibukkan dengan berbagai kegiatan kampus disamping kuliah sebagain kegiatan rutin, dihiasi dengan aktivitas kerja sosial, Kuliah Kerja Nyata (KKN), Dies Natalis, acara penerimaan mahasiswa baru, dan wisuda sarjana. Meskipun disana-sini aksi protes kecil tetap ada.

Menjelang dan terutama saat-saat antara sebelum dan setelah Pemilu 1977, barulah muncul kembali pergolakan mahasiswa yang berskala masif. Berbagai masalah penyimpangan politik diangkat sebagai isu, misalnya soal pemilu mulai dari pelaksanaan kampanye, sampai penusukan tanda gambar, pola rekruitmen anggota legislatif, pemilihan gubernur dan bupati di daerah-daerah, strategi dan hakekat pembangunan, sampai dengan tema-tema kecil lainnya yang bersifat lokal. Gerakan ini juga mengkritik strategi pembangunan dan kepemimpinan nasional.

Awalnya, pemerintah berusaha untuk melakukan pendekatan terhadap mahasiswa, maka pada tanggal 24 Juli 1977 dibentuklah Tim Dialog Pemerintah yang akan berkampanye di berbagai perguruan tinggi. Namun demikian, upaya tim ini ditolak oleh mahasiswa. Pada periode ini terjadinya pendudukan militer atas kampus-kampus karena mahasiswa dianggap telah melakukan pembangkangan politik, penyebab lain adalah karena gerakan mahasiswa 1978 lebih banyak berkonsentrasi dalam melakukan aksi diwilayah kampus. Karena gerakan mahasiswa tidak terpancing keluar kampus untuk menghindari peristiwa tahun 1974, maka akhirnya mereka diserbu militer dengan cara yang brutal. Hal ini kemudian diikuti oleh dihapuskannya Dewan Mahasiswa dan diterapkannya kebijakan NKK/BKK di seluruh Indonesia.

Soeharto terpilih untuk ketiga kalinya dan tuntutan mahasiswa pun tidak membuahkan hasil. Meski demikian, perjuangan gerakan mahasiswa 1978 telah meletakkan sebuah dasar sejarah, yakni tumbuhnya keberanian mahasiswa untuk menyatakan sikap terbuka untuk menggugat bahkan menolak kepemimpinan nasional.

 

Era NKK/BKK

Setelah gerakan mahasiswa 1978, praktis tidak ada gerakan besar yang dilakukan mahasiswa selama beberapa tahun akibat diberlakukannya konsep Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kemahasiswaan (NKK/BKK) oleh pemerintah secara paksa.

Kebijakan NKK dilaksanakan berdasarkan SK No.0156/U/1978 sesaat setelah Dooed Yusuf dilantik tahun 1979. Konsep ini mencoba mengarahkan mahasiswa hanya menuju pada jalur kegiatan akademik, dan menjauhkan dari aktivitas politik karena dinilai secara nyata dapat membahayakan posisi rezim. Menyusul pemberlakuan konsep NKK, pemerintah dalam hal ini Pangkopkamtib Soedomo melakukan pembekuan atas lembaga Dewan Mahasiswa, sebagai gantinya pemerintah membentuk struktur keorganisasian baru yang disebut BKK. Berdasarkan SK menteri P&K No.037/U/1979 kebijakan ini membahas tentang Bentuk Susunan Lembaga Organisasi Kemahasiswaan di Lingkungan Perguruan Tinggi, dan dimantapkan dengan penjelasan teknis melalui Instruksi Dirjen Pendidikan Tinggi tahun 1978 tentang pokok-pokok pelaksanaan penataan kembali lembaga kemahasiswaan di Perguruan Tinggi.

Kebijakan BKK itu secara implisif sebenarnya melarang dihidupkannya kembali Dewan Mahasiswa, dan hanya mengijinkan pembentukan organisasi mahasiswa tingkat fakultas (Senat Mahasiswa Fakultas-SMF) dan Badan Perwakilan Mahasiswa Fakultas (BPMF). Namun hal yang terpenting dari SK ini terutama pemberian wewenang kekuasaan kepada rektor dan pembantu rektor untuk menentukan kegiatan mahasiswa, yang menurutnya sebagai wujud tanggung jawab pembentukan, pengarahan, dan pengembangan lembaga kemahasiswaan.

Dengan konsep NKK/BKK ini, maka peranan yang dimainkan organisasi intra dan ekstra kampus dalam melakukan kerjasama dan transaksi komunikasi politik menjadi lumpuh. Ditambah dengan munculnya UU No.8/1985 tentang Organisasi Kemasyarakatan maka politik praktis semakin tidak diminati oleh mahasiswa, karena sebagian Ormas bahkan menjadi alat pemerintah atau golongan politik tertentu. Kondisi ini menimbulkan generasi kampus yang apatis, sementara posisi rezim semakin kuat.

Sebagai alternatif terhadap suasana birokratis dan apolitis wadah intra kampus, di awal-awal tahun 80-an muncul kelompok-kelompok studi yang dianggap mungkin tidak tersentuh kekuasaan refresif penguasa. Dalam perkembangannya eksistensi kelompok ini mulai digeser oleh kehadiran wadah-wadah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang tumbuh subur pula sebagai alternatif gerakan mahasiswa. Jalur perjuangan lain ditempuh oleh para aktivis mahasiswa dengan memakai kendaraan lain untuk menghindari sikap represif pemerintah, yaitu dengan meleburkan diri dan aktif di Organisasi kemahasiswaan ekstra kampus seperti HMI (himpunan mahasiswa islam), PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia), GMNI (Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia), PMKRI (Pergerakan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia), GMKI (Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia) atau yang lebih dikenal dengan kelompok Cipayung. Mereka juga membentuk kelompok-kelompok diskusi dan pers mahasiswa.

Beberapa kasus lokal yang disuarakan LSM dan komite aksi mahasiswa antara lain: kasus tanah waduk Kedung Ombo, Kacapiring, korupsi di Bapindo, penghapusan perjudian melalui Porkas/TSSB/SDSB.

 

1990

Memasuki awal tahun 1990-an, di bawah Mendikbud Fuad Hasan kebijakan NKK/BKK dicabut dan sebagai gantinya keluar Pedoman Umum Organisasi Kemahasiswaan (PUOK). Melalui PUOK ini ditetapkan bahwa organisasi kemahasiswaan intra kampus yang diakui adalah Senat Mahasiswa Perguruan Tinggi (SMPT), yang didalamnya terdiri dari Senat Mahasiswa Fakultas (SMF) dan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM).

Dikalangan mahasiswa secara kelembagaan dan personal terjadi pro kontra, menamggapi SK tersebut. Oleh mereka yang menerima, diakui konsep ini memiliki sejumlah kelemahan namun dipercaya dapat menjadi basis konsolidasi kekuatan gerakan mahasiswa. Argumen mahasiswa yang menolak mengatakan, bahwa konsep SMPT tidak lain hanya semacam hiden agenda untuk menarik mahasiswa ke kampus dan memotong kemungkinan aliansi mahasiswa dengan kekuatan di luar kampus.

Dalam perkembangan kemudian, banyak timbul kekecewaan di berbagai perguruan tinggi karena kegagalan konsep ini. Mahasiswa menuntut organisasi kampus yang mandiri, bebas dari pengaruh korporatisasi negara termasuk birokrasi kampus. Sehingga, tidaklah mengherankan bila akhirnya berdiri Dewan Mahasiswa di UGM tahun 1994 yang kemudian diikuti oleh berbagai perguruan tinggi di tanah air sebagai landasan bagi pendirian model organisasi kemahasiswaan alternatif yang independen.

Dengan dihidupkannya model-model kelembagaan yang lebih independen, meski tidak persis serupa dengan Dewan Mahasiswa yang pernah berjaya sebelumnya upaya perjuangan mahasiswa untuk membangun kemandirian melalui SMPT, menjadi awal kebangkitan kembali mahasiswa ditahun 1990-an.

Gerakan yang menuntut kebebasan berpendapat dalam bentuk kebebasan akademik dan kebebasan mimbar akademik di dalam kampus pada 1987 - 1990 sehingga akhirnya demonstrasi bisa dilakukan mahasiswa di dalam kampus perguruan tinggi. Saat itu demonstrasi di luar kampus termasuk menyampaikan aspirasi dengan longmarch ke DPR/DPRD tetap terlarang.

1998

Gerakan 1998 menuntut reformasi dan dihapuskannya "KKN" (korupsi, kolusi dan nepotisme) pada 1997-1998, lewat pendudukan gedung DPR/MPR oleh ribuan mahasiswa, akhirnya memaksa Presiden Soeharto melepaskan jabatannya. Berbagai tindakan represif yang menewaskan aktivis mahasiswa dilakukan pemerintah untuk meredam gerakan ini di antaranya: Peristiwa Cimanggis, Peristiwa Gejayan, Tragedi Trisakti, Tragedi Semanggi I dan II , Tragedi Lampung. Gerakan ini terus berlanjut hingga pemilu 1999.

Kemana Pergerakan Mahasiswa Hari Ini?
Gerakan mahasiswa dalam sejarah perubahan peradaban dunia berkali-kali telah menorehkan tinta emasnya. Dimulai pada awal abad ke-12 dengan berdirinya Universitas Bologna di Paris. Saat itu lebih dikenal dengan semboyan ‘Gaudeamus Igtiur, Juvenes Dum Sumus” (kita bergembira, selagi masih muda). Pergerakan mahasiswa senantiasa memberikan pencerahan baru dalam setiap sikapnya tak terkecuali di Indonesia, salah satu elemen yang turut membawa negara ini merdeka ialah kaum muda (baca: mahasiswa).
Gerakan pemuda di Indonesia ini dimulai dengan Sumpah Pemuda pada tahun 1928. Namun, istilah pemuda tersebut mengalami spesialisasi dengan sebutan mahasiswa, sosok yang memiliki kadar intelektual
itas yang tinggi. Hal ini sah-sah saja karena untuk mengadakan perubahan bangsa tidak cukup dengan semangat ‘muda’ dituntut juga intelektualitas yang mumpuni dan yang menjadikan nilai lebih mahasiswa adalah gerakan mereka relatif bebas dari berbagai intrik politik. Sebut saja kedudukan, jabatan dan bahkan kekayaan.

 Peran mahasiswa pada angkatan 66, 74 dan 98 telah memberikan label The Agent of Social Control. Apalagi perjuangan mereka tidak lain adalah penyalur lidah masyarakat yang tertindas pada masa rezim tertentu. Kekuatan moral yang terbangun lebih disebabkan karena mahasiswa yang selalu bergerak secara aktif. Seperti dengan turun ke jalan demi berteriak menuntut keadilan dan pembelaan terhadap hak- hak wong cilik.

Namun seiring perjalanan waktu gerakan mahasiswa akhir-akhir ini seperti kehilangan gregetnya, aksi-aksi penentangan terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah yang tidak memihak rakyat tidak lagi mampu mengundang simpati mereka. Bahkan rakyat cenderung beranggapan -- mahasiswa cuma bisa ngomong dan demo melulu. Apalagi ditemukan beberapa kasus demo bayaran. Terlebih dengan ulah mahasiswa pada saat Pilkada di beberapa daerah  akhir-akhir tahun ini. Belum lagi perilaku-perilaku negatif kian marak dibawa sebagian mahasiswa ke dalam lingkungan sekitar kampus, sehingga dengan memukul rata rakyat semakin yakin akan ‘kemunafikan’ mahasiswa.

Faktor-faktor eksternal di atas semakin kompleks dengan permasalahan internal yang dihadapi oleh hampir semua organisasi pergerakan yaitu sepinya kader baru. Kader sebagai SDM organisasi memegang peranan vital menyangkut mati hidupnya organisasi.
Hal ini disebabkan kebijakan pendidikan di Indonesia yang mulai berkiblat pada kapitalisme dan liberalisme. Pembatasan masa studi dan biaya SPP yang membumbung tinggi adalah bukti konkretnya.

Sudah saatnya para aktivis pergerakan mengubah orientasi dengan menegedepankan nuansa gerakan intelektual (intellectual movement) selain gerakan masa dalam menuntaskan cita-cita yang diawali dengan ikrar sumpah pemuda.

Secara hakiki, gerakan mahasiswa adalah gerakan intelektual—jauh dari kekerasan dan daya juang radikalisme. Mengingat, gerakan ini bermuara dari kalangan akademis kampus—cenderung mengedapankan rasionalitas dalam menyikapi perbagai permasalahan. Dalam perspektif penulis, gerakan intelektual (intellectual movement) akan terbangun di atas Trias Tradition (tiga tradisi).

Pertama, terbangun diatas tradisi diskusi (Discussion Tradition). Gerakan mahasiswa harus memperbanyak ruang diskusi—pra-pasca pergerakan. Diskusi akan membawa gerakan mahasiswa menjadi sebuah gerakan rasional dan terpercaya—ciri khas gerakan mahasiswa. Lantaran itu, elemen masyarakat secara umum akan lebih menghargai isu-isu diusung oleh gerakan mahasiswa.

Seperti dalam menurunkan demonstrasi, elemen gerakan mahaiswa harus mengkaji lebih detil—apa, mengapa, akibat dan latar belakang— kebijakan pemerintah harus ditentang. Dari kajian-kajian dalam bentuk diskusi lepas dengan mengundang para pakar dibidang-bidang berkaitan dengan agenda aksi, akan mampu melahirkan gagasan- gagasan dan analisa cemerlang.

Hari ini, Aktualisasi dan keakuratan data sangat penting bagi gerakan mahasiswa dalam mengkritisi dan bertindak. Sebagaimana kita ketahui zaman semakin maju sehingga dalam mengungkap sesuatu atau menghujam kritik harus berdasar, jelas, akurat dan terpercaya, tanpa itu sulit bagi gerakan mahasiswa dalam menyakinkan rakyat dalam menyalurkan aspirasi.

Kedua, terbangun diatas tradisi menulis (Writing Tradition). Aktivitas menulis merupakan salah satu gerbang menuju tradisi intelektual bagi gerakan mahasiswa. Sejak dulu sampai kini, tokoh dan intelektual bangsa Indonesia—bernotabene mantan tokoh aktivis pemuda dan mahasiswa, banyak melemparkan gagasan atau ide-ide cemerlang, kritikan tajam dan membangun wacana dalam bentuk tulisan.

Sebut saja nama tokoh-tokoh populer seperti, Bung Karno, Bung Hatta, M. Natsir—era pra kemerdekaan; Abdurrahman Wahid, Amien Rais, Nurcholis Madjid, Deliar Noer, Hariman Siregar, Arief Budiman—era 60 sampai 80-an; Anas Urbaningrum, Eef Saefulloh Fatah, Kamarudin, Andi Rahmat (era 90-an)
, Hidayat Mur Wahid dan lain-lain.
Bila kita balikkan ke pergerakan mahasiswa, mendukung dan menggalakkan melemparkan isu-isu lewat tulisan perlu perhatian serius. Karena, mewacanakan isu-isu melalui media cetak dapat dibaca oleh kalangan lebih luas—dalam artian lebih efefktif untuk menyebarkan gagasan atau wacana ke seluruh pelosok persada nusantara, bahkan sampai manca negara.
Hal ini bersinergi dengan peran mahasiswa Indonesia, meminjam istilah Michael Fremerey (1976) "Gerakan korektif", selain diorasikan melalui mimbar bebas dalam aksi demonstrasi juga dapat diwujudkan bagi tokoh-tokoh pergerakan mahasiswa dalam bentuk tulisan di Media Massa.

Ketiga, terbangun diatas tradisi membaca (Reading Tradition). Aktualisasi isu sangat penting bagi gerakan mahasiswa dalam bergerak. Begitu cepat pergeseran berita dan opini publik, memaksa kita untuk senantiasa membaca—kalau tidak akan tertinggal. Kesibukan bukan alasan tepat untuk tidak membaca, di mana atau kapan pun bisa kita luang waktu untuk membaca—antri mengambil karcis, di bus, menjelang demonstrasi dan lain-lain.
Sebuah harapan, gerakan mahasiswa juga bisa mewacanakan semacam 'Gerakan Gemar Membaca" dan disosialisasikan secara luas. Cara ini, dapat menunjukkan gerakan mahasiswa ikut membantu pemerintah dalam membuka kunci gembok kebodohan serta berperan menyelesaikan problem pendidikan Indonesia nyaris tak kunjung terselesaikan ini.
Dari berbagai permasalahan yang dihadapi dunia pergerakan, mahasiswa dengan pergerakannya perlu mengubah paradigma perjuangannya untuk tetap bisa eksis sehingga rakyat kembali menaruh kepercayaan.

Tema-tema perjuangan dan gerakan moralitas, pencerdasan kaum pinggiran, pengentasan kemiskinan serta isu-isu sosial lainnya akan lebih terasa dampak manfaatnya terhadap masyarakat kita. Jika selama ini sumbangsih pergerakan mahasiswa sebatas usulan, demo dan pengontrol maka ke depannya dituntut sebagai pelaku dan bahkan mungkin penentu.
Namun perubahan paradigma dunia pergerakan mahasiswa hendaknya tidak mengurangi fungsinya sebagai The Agent of Social Control serta motor penggerak pembaharu yang tetap peduli dan berpihak kepada masyarakat bawah karena sampai kapan pun mahasiswa dengan semangat mudanya akan tetap memegang peranan penting dalam mengontrol kebijakan-kebijakan publik agar tetap memikirkan akar rumput dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat.

Semenjak peristiwa fenomenal tahun 1998 ketika saat itu hampir seluruh mahasiswa bergerak untuk menyongsong reformasi. Hingga saat ini peristiwa seperti itu dan prestisme gerakan mahasiswa sangat sulit terulang. Bahkan bisa dibilang dari semenjak tahun kejayaan mahasiswa tahun 1998 hingga sekarang tahun 2009, sebelas tahun berlalu grafik penilaian terhadap gerakan mahasiswa terus menurun. Banyak faktor yang menyebabkan gerakan mahasiswa tidak menemukan “ruhnya” kembali. Salah satunya yang banyak disebutkan yakni karena mahasiswa tidak mampu menemukan lagi momentum yang tepat untuk bergerak. Iklim demokrasi membawa dampak kultur perubahan bagi masyarakat. Setiap elemen masyarakat bebas untuk berpendapat dan mengadvokasi diri mereka sendiri. Padahal sebelumnya mahasiswa punya fungsi strategis untuk mengadvokasi masyarakat yang tertindas. Akhirnya kini mahasiswa kehilangan taringnya karena masyarakat yang seolah-olah ”tidak membutuhkan pembelaan lagi dari mahasiswa”.

Selain karena faktor diatas, ada faktor yang lebih dominan yang mempengaruhi pergerakan mahasiswa, yakni gencarnya arus globalisasi di Indonesia. Globalisasi saat ini tidak dapat dihindarkan lagi di berbagai negara termasuk di Indonesia. Menyikapi ini tentu sebuah gerakan mahasiswa harus mampu menyusaikan dengan hati- hati, agar tidak tergelincir nantinya. Globalisasi satu sisi memang menawarkan suatu kebaikan dan kemajuan, tapi di sisi yang lain juga membawa dampak yang negatif bagi masyarakat.
Pesatnya perkembangan dunia informasi dan tekhnologi yang berasal dari luar hakikatnya membawa keuntungan bagi kita, tapi ternyata juga membawa efek buruk. Sekarang muncul model hidup manusia baru yang lebih mementingkan kemewahan dunia akibat terbawa trend dari luar. Bahkan ini telah menjadi suatu gerakan tersendiri, yang disebut gerakan “Hedonisme”. Tentu saja jadi kabar buruk bagi pergerakan mahasiswa. Ketika hedonisme masuk dan mulai merasuk dalam setiap pribadi mahasiswa, yang ada hanyalah membuat mahasiswa semakin apatis terahadap kepentingan negara dan masyarakatnya. Mahasiswa hedon hanya peduli terhadap kepentingan pribadi dan kesenangan mereka sendiri. Sekarang musuh bersama setiap gerakan mahasiswa yang mempunyai nilai kebaikan telah jelas, yaitu gaya hidup hedon dan gerakannya yang bernama hedonisme.

Selain membawa hedonisme, globalisasi juga menawarkan satu paham yang tidak sesuai dengan kondisi masyarakat Indonesia saat ini, bahkan bisa jadi akan semakin merusak tatanan kehidupan di Indonesia. Neo liberalisme adalah paham yang berasal dari dunia barat. Paham ini berpotensi menjerumuskan masyarakat kedalam persaingan ekonomi yang bebas tanpa ada intervensi dari pemerintah. Akhirnya yang terjadi adalah orang-orang yang punya kekuasaan dan bermodal terus menindas rakyat miskin yang semakin termarginalkan. Hampir semua gerakan mahasiswa sepakat tentang ini, dan menentang keras diterapkannya paham neoliberalisme
.

Pergerakan mahasiswa sekarang dalam keadaan kritis, eksistensinya semakin tidak jelas. Sudah saatnya gerakan mahasiswa memutar haluan dan mencoba mencari arahan baru yang sesuai dengan tantangan jaman. Rekonstruksi sebuah pergerakan mahasiswa tak dapat ditunda-tunda lagi jika tetap ingin eksis. Dengan itu gerakan mahasiswa akan siap untuk menjawab tantangan globalisasi dunia, sampai tujuan mulia itu terwujud di bumi pertiwi ini.
Kawan… kami masih ada
Masih bergerak
Karena diam itu MATI!
Hidup Mahasiswa!
Hidup Rakyat Indonesia!

BEGINILAH JALAN DA’WAH KAMMI MENGAJARKAN KAMI

(Untuk Kita Renungkan Bersama)
Oleh
Dany Agustian*

SEBUAH PEMBUKA
          Cukup berat untuk akhirya menuliskan nasehat ini kepada kader-kader KAMMI yang sangat jelas memiliki levelisasi yang lebih tinggi dan waktu kontribusi amal yang lebih banyak. Dengan Segala kejujuran dan ketaudirian penulis bukanlah siapa-siapa-siapa dalam da’wah KAMMI. Penulis hanyalah seorang manusia yang tertarik untuk mau belajar lebih banyak di Wajihah yang terkenal dengan Narasi “Muslim Negarawan” nya. Penulis hanyalah AB1 yang baru beberapa bulan merasakan “Di Bawah Naungan Da’wah KAMMI”. Namun keberatan itu seakan sirna tak kala sebuah Hal yang lebih berat dibandingkan variabel sebelumnya, hal itu adalah sebuah ayat yang Allah Cantumkan dalam kitab sucinya yang mulia

kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.
(Al ‘Ashr : 3)

Dengan segala kecintaan Allah, Rosul, KAMMI dan kader-kader KAMMI, saya persembahkan semua ini…
DARI SINI KITA MULAI
Sampai hari ini bahkan sampai kapan pun, Kita tidak boleh lelah untuk mengulang-ulang cara kita membaca perjalanan kereta da’wah ini, karena itu sangat mempengaruhi persepsi kita tentang keseluruhan perjalanan perjuangan kita. Bukan hanya mengingat seberapa besar capaian da’wah yang kita hasilkan tetapi juga bagaimana kita mempertahankan bahkan memperbesar dimensi capaian da’wah tersebut. Bukan hanya mengingat bagaimana kemudahan itu didapatkan tetapi juga bagaimana gangguan dan rintangan yang datang menghambat kereta perjuangan ini.

Dengan cara membaca yang benar dan menelaah yang utuh, tahapan demi tahapan perjalanan kita, maka kita akan selalu mendapat penjelasan baru yang terus menyegarkan, tentang bagaimana realitas perjuangan ini dicapai, dan apa yang harus kita lakukan untuk menciptakan realitas yang berkelanjutan.

Menjadi sebuah kepastian bahwa diantara kita ada yang telah menjadi kader KAMMI selama bertahun-tahun, ada juga yang baru merasakan “Indahnya Perjalanan Da’wah” dibawah payung Wajihah Muslim Negarawan. Dan menjadi sebuah kepastian pula bahwa diantara kita terclaster-claster pada sekat-sekat levelisasi kader, Baik itu AB 1, AB 2, maupun AB 3.

Waktu merupakan variabel yang tepat untuk memberikan label kepada seseorang apakah ia orang baru atau lama. Level-isasi juga merupakan sebuah hal yang tidak bisa dihindari dalam karena ini adalah sebuah bentuk apresiasi terhadap muwashofat yang sudah dilalui.

Variabel Waktu dan level-isasi adalah ukuran yang memberi kita label orang baru atau lama, baik dalam kaca mata waktu maupun ketercapaian muwashofat suatu kader. Hal tersebut tidak dapat dihindari tetapi itu juga tidak memberi arti apa-apa bila lama dan baru, senior dan junior harus dipakai hanya sebagai simbol kehormatan suatu kader.

Waktu dan level-isasi hanya akan berarti bila diartikan sebagai Variabel yang menyatakan sebuah perbandingan lurus antara Waktu dan level-isasi dengan kontribusi yang ada. Bahwa semakin lama kader KAMMI hari ini memakai title Muslim Negarawan maka semakin banyak dan semakin besar pula kontribusi yang diberikan kepada wajihahnya. Begitu pula dengan tingkat level-isasi bahwa sesungguhnya semakin tinggi tingkat levelisasi seseorang maka semakin tinggi pula kontribusi yang ia berikan untuk kemenangan da’wah organisasinya.

Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih?. (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan RasulNya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam jannah 'Adn. Itulah keberuntungan yang besar. Dan (ada lagi) karunia yang lain yang kamu sukai (yaitu) pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat (waktunya). Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman
(Ash-Shaff : 10-13)

Sebuah hal yang harus kita pahami bersama dalam kaca mata Realitas da’wah, “Apakah Hubungan Kausalitas Antara Variable “Waktu Dan Level-isasi” Dengan “Kontribusi” Seindah Pandangan Mata Da’wah???”. Bahwa Seiring bertambahnya waktu, seiring pula tingkat pertambahan kader. Bahwa dengan semakin bertambahnya jumlah kader yang mengalami levelisasi kader pada level yang lebih tinggi. Namun sebuah hal yang harus kita renungkan bersama adalah “apakah hal ini tidak seiring sejalan dengan berapa jumlah kontribusi yang kader kammi berikan untuk wajihahnya sendiri sesuai dengan kapasitas waktu dan kapasitas levelisasi yang allah takdirkan kepada masing-masing kader kammi hari ini ???” Wallahu 'alam.

Cukuplah Allah Swt mengingatkan kita dalam Firman-Nya

Sesungguhnya Allah telah menolong kamu (hai para mukminin) di medan peperangan yang banyak , dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu diwaktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlah (mu), maka jumlah yang itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun, dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari kebelakang dengan bercerai-berai.
(At Taubah : 25)

Banyak hal-hal yang kita alami bersama kereta da’wah ini. Banyak momen-momen indah yang telah kita syukuri, banyak pula yang masih kita keluhkan, rintangan yang menghambat laju kereta da’wah ini, keringkihan fisik dan jiwa, kegersangan ruhani dan kelesuan gairah untuk ber-ukhuwah bersama saudara seperjuangan. Disaat yang sama banyak pemandangan-pemandangan indah yang terlewat dan belum sempat kita potret serta nikmati bersama.

Sudah saatnya bagi kita untuk berhenti sejenak seraya membuka kembali peta perjalanan yang telah kita gambar bersama ketika diawal perjalanan pemberangkatan kereta ini. mensyukuri apa yang telah Alloh berikan dan merenungi setiap kekurangan yang harus kita tambal serta menyiapkan strategi-strategi berikutnya agar kebermanfaatan kita dalam kereta ini bukan hanya untuk diri kita pribadi tetapi juga untuk umat disikitar kita sebelum kereta perjuangan ini bergerak kembali untuk menuju tempat pemberhentian berikutnya. Semoga Alloh memudahkan dan meridhoi kita dalam menyelesaikan agenda-agenda perjuangan kita.

Berangkat dari kesadaran ma’nawi itulah yang akhirnya membuat seharusnya merenungkan kembali “Untuk Apa Kita Menjadi Kader KAMMI”. Kesadaran adalah sebuah hal yang penting dalam diri seorang aktivis da’wah karena dengan kesadaran dalam diri kitalah yang memberi kita rasa terarah. Kesadaran itulah yang akan menjadi pendorong, landasan, sekaligus penguat mengapa kita mau berlelah-lelah bekerja, berkontribusi, dan menjalankan amanah-amanah dakwah. Yang membuat kita rela untuk infaq, syuro, dauroh, demonstrasi yang menyebabkan waktu istirahat berkurang, waktu berkumpul dengan keluarga sedikit, banyak kesenangan pribadi yang di singkirkan bahkan memprioritaskan tujuan dan capaian dakwah di atas cita-cita pribadi. Itulah yang disebut kesadaran akan menjadi kader.

Merenungkan kembali makna menjadi Kader KAMMI, berarti pula kita akan melakuakan penelusuran ulang mengapa kala itu itu mau untuk menjadi Bagian dari Da’wah KAMMI. Merenungkan kembali makna menjadi kader, pada akhirnya berarti pula mengembalikan potongan-potongan puzzle romantisme masa lalu yang juga menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari takdir hidup kita hari ini, tentang kesadaran-kesadaran yang dahulu pernah kita rajut dalam buah keyakinan iman dan harokah.

KESADARAN ARGUMENTASI
Kesadaran Argumentasi adalah atas dasar apa sesungguhnya kita menjadi kader KAMMI. Pertanyaan ini harus mampu kita jawab dengan sejujur-jujurnya. Pertanyaan ini harus sering kita ulang-ulang, bukan untuk menunjukan keraguan tapi untuk menguatkan keyakinan. Inilah yang dinamakan niat.

“Semua amal perbuatan tergantung niatnya dan setiap orang akan mendapatkan sesuai apa yang ia niatkan…”
(HR Bukhari dan Muslim)

Bahwa sesungguhnya kesadaran ini akan kembali kepada sebuah pertanyaan yang sangat dasar tapi mendalam “Untuk Apa Kita Berda’wah”. Dalam Buku “Tidak ada Alasan Bagimu Meninggalkan Da’wah” Karya Abdul Aziz Al-Aidan beliau menyatakan bahwa

Berda’wah Merupakan Perintah Allah  Dan Rosul-Nya

Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung
(Ali Imron : 104)

Hukum berda’wah adalah wajib kifayah artinya sesuai dengan kadar. Mungkin Banyak kader KAMMI yang berangkapan bahwa kader-kader KAMMI yang berkontribusi pada hari ini sudah cukup untuk bisa mewakili amal-amal mereka. Namun yang harus kita renungi bersama terkait kadar kecukupan adalah terkait efektifitas ketercapaian hasil dalam proses perjuangan yang dihasilkan. Selama hasil yang ada belumlah hasil yang maksimal dalam kaca mata kemenangan da’wah maka belum cukup bagi kader-kader KAMMI yang beranggapan seperti diatas untuk menyatakan jumlah kader yang ada (tanpa mereka) sudah cukup untuk menggapai kemenangan-kemenangan da’wah.

Da’wah Sebagai Sebaik-Baik Perkataan
Salah satu alas an yang seharusnya kita bersemangat dalam da’wah KAMMI adalah karena Janji Allah Swt. bahwa Allah akan memuliakan kedudukan bagi siapa saja yang meenyerukan manusia kepada kebaikan seperti yang Alloh firmankan

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang-orang yang berdakwah kepada Allah dan beramal shaleh, dan mereka berkata, “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri?”
(QS. Fushshilat: 33)
kalimat pertanyaan dalam ayat ini mengandung makna peniadaan. maka makna ayat tersebut berarti tidak ada satu pun yang lebih baik ucapan, langkah, dan kedudukannya disisi Allah Swt. dari pada orang yang berda’wah dijalannya.

Allah Menyediakan Pahala Yang Besar Bagi Para Da’i
“Allah memberikan hidayah kepada seorang manusia, melalui perantaramu, lebih baik nilainya bagimu dari pada unta merah”
(HR. Bukhori dan Muslim)

“Barang Siapa yang menyeru kepada petunjuk, maka baginya pahal seperti pahala-pahala orang yang mengikutinya, tanpa dikurangi dari pahala-pahala mereka itu sedikit pun”
(HR. Muslim)

Abdul malik Al Qasim dalam bukunya “Laisa ‘Alaika Wasyah”  mengatakan “Yakinlah, sekalipun engkau tidur di saat ia sholat malam; engkau berbuka saat ia shoum; … pahalanya tetap mengalir untukmu; sebanding dengan pahala orang itu, tanpa dikurangi sedikitpun.

Da’wah KAMMI adalah Da’wah yang Mengembalikan fitrah sebuah bangsa dan manusia yaitu semangat untuk menghambakan dirinya kepada Allah, yang karena itulah KAMMI mulia di hadapan Robb-Nya. Untuk itulah sudah saatnya bagi kita bersama KAMMI untuk menebar kebaikan kepada orang lain yang merupakan harta simpanan yang sempurna dalam rangka menumpuk pahala-pahala kebaikan

Kebaikan Dan Keburukan Akan Sama-Sama “Ber-Fastabiqul Khoirot”

“Barang siapa yang tidak disibukkan dengan kebaikan maka ia akan disibukkan dengan keburukan”
(Kaidah Gerakan)

itulah sebuah kaidah yang cukup cocok untuk menggambarkan sekaligus mengganalogikan posisi da’wah KAMMI terhadap “da’wah” lainnya. jikalau hari ini kita yang menjadi anashir-anashir di KAMMI berleha-leha untuk tidak menyampaikan da’wah yang menjadi hak umat manusia maka sesungguhnya umat manusia itu akan segera menjadi targetan-targetan “da’wah” lainnya yang belum tentu ber-kiblat kepada islam.

Namun PR bagi kader KAMMI terkait kesadaran ini tidak hanya sampai di iterasi ke 4, tetapi ia harus juga memaknai hakikat da’wah KAMMI. Bahwa Sesungguhnya jalan da’wah KAMMI itu adalah jalan yang tidak sederhana. Jauh, panjang dan penuh liku apalagi jalan dakwah yang kita tempuh saat ini. Ia jalan yang panjang dan ditaburi dengan halangan dan rintangan, rayuan dan godaan. Karena itu dakwah ini sangat memerlukan orang-orang yang memiliki muwashafat ‘ailiyah, yakni orang-orang yang berjiwa ikhlas, itqan dalam bekerja, berjuang dan beramal serta orang-orang yang tahan akan berbagai tekanan. Dengan modal itu mereka sampai pada harapan dan cita-citanya.

Masih kita ingat sebuah cerita yang terdapat di buku siroh nabawiyah yang kita pernah baca Kita bisa melihat ketegaran Rasulullah SAW. Ketika beliau mendapatkan tawaran menggiurkan untuk meninggalkan dakwah Islam tentunya dengan imbalan. Imbalan kekuasaan, kekayaan atau wanita. Tetapi dengan tegar beliau menampik dan berkata dengan ungkapan penuh keyakinannya kepada Allah SWT

“Demi Allah, wahai pamanku seandainya mereka bisa meletakkan matahari di tangan kananku dan rembulan di tangan kiriku agar aku meninggalkan dakwah ini. Niscaya tidak akan aku tinggalkan urusan ini sampai Allah SWT. memenangkan dakwah ini atau semuanya akan binasa”

Demikian pula kita merasakan ketegaran Imam Hasan Al Banna dalam menghadapi tribulasi dakwahnya. Ia terus bersabar dan bertahan. Meski akhirnya ia pun menemui Robb-Nya dengan berondongan senjata api dan Sayyid Quthb yang menerima eksekusi mati dengan jiwa yang lapang lantaran aqidah dan menguatkan sikapnya berhadapan dengan tiang gantungan. Beliau dengan yakin menyatakan kepada saudara perempuannya, “Ya ukhtil karimah insya Allah naltaqi amama babil jannah. Duhai saudaraku semoga kita bisa berjumpa di depan pintu surga kelak”.

Cerita-cerita tadi seharusnya membuat kita semakin yakin bahwa jalan da’wah KAMMI memang penuh dengan rintangan dan hambatan. Disaat bersamaan pula kita seharusnya semakin tersadar bahwa ujian-ujian ini bukan hanya terjadi pada pejuang-pejuang da’wah hari ni tetapi telah terjadi sejak zaman perjuang-pejuang da’wah terdahalu.

Namun terkadang bukan karena cobaan eksternal yang membuat pasukan kita tercerai berai hingga akhirnya kalah oleh rintangan dan hambatan yang Alloh hadirkan untuk pasukan kita. Namun cobaan internal-lah yang akhirnya membuat pasukan kita tercerai berai.

Kita pasti teringat peristiwa “kekalahan” pasukan muslim dalam perang uhud. Pasukan muslim bukan kalah karena kehebatan pasukan Quroisy tetapi karena kelemahan pasukan muslim sendiri yang tidak saling percaya antara yang satu dengan yang lainnya.

Itulah pentingnya Kesadaran argumentasi seorang Kader KAMMI terhadap KAMMI itu sendiri. Agar ia kembali memaknai untuk apa ia berda’wah dan bagaimana ia memaknai hakikat da’wah KAMMI itu sendiri. Sehingga mereka bukan menjadi kader-kader yang streril tapi menjadi kader-kader yang “imun”. Wallahu 'Alam

KESADARAN AFILIASI
Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh
(Ash Shaff : 4)

Ayat ini menegaskan bahwa kekuatan yang memusuhi misi KAMMI tidak bekerja sendiri-sendiri dan bukan dalam kelompok-kelompok yang berantakan, namun bereka bekerja dalam persekongkolan dan perhimpunan yang terorganisir secara rapi. mereka memiliki struktur yang dan system organisasi yang solid. Karena kesadaran itulah harusnya kita memerangi mereka seperti cara mereka memerangi kita, batu kerikil tidak akan pernah bisa mengalahkan gunung.

Hal lain yang harus kita sadari adalah bahwa KAMMI bukanlah jama’ah malaikat yang tidak memiliki dosa. Ia tetaplah manusia yang pasti memiliki kesalahan dalam setiap ijtihad-ijtihad politiknya. Namun inilah indahnya berjama’ah karena

“Kekeruhan Dalam Berjama’ah lebih baik dibandingkan kejernihan seorang diri”
(Sayyidina Ali Ra)

Rosululloh pun berpesan “Tangan Allah bersama jama’ah, barang siapa yang menyendiri maka ia akan menyendiri di neraka”, “Maka hendaklah kamu berjama’ah karena serigala itu suka memangsa kambing yang bersendirian”, “Barang siapa yang ingin memperoleh kenikmatan syurga maka hendaklah berpegang teguh dengan jama’ah

Butuh keihlasan dalam memaknai Jalan Da’wah KAMMI, butuh kejernihan hati untuk mengikhlaskan keputusan jama’ah yang tidak sesuai dengan hasrat pribadi karena

“Jalan da’wah KAMMI mengajarkan kami bahw kami memang membutuhkan da’wah. Kebersamaan saudara-saudara kami di jalan KAMMI semakin menegaskan bahwa kami harus hidup bersama mereka di jalan KAMMI agar berhasil di dunia dan akhirat”

KESADARAN KONTRIBUSI
Kata kontribusi ibaratkan sebuah koin logam, dimana pasangan dari sisi kontribusi itu adalah pengorbanan. Kesadaran berkontribusi memberi kita pembuktian pada tataran yang lebih nyata tentang arti menjadi aktivis KAMMI. Jikalau dua kalimat itu di konjungsikan maka kita setidaknya akan mendapatkan sebuah kalimat baru yang merupakan simplifikasi dari dua kalimat diatas. Maka kalimat itu adalah “Apa yang kita bisa kita korbankan untuk KAMMI”.

Bagi para kader KAMMI yang ikhlas, kamus yang ada dalam benak mereka adalah selalu member dan berkorban. Karena semangat itulah yang menghantarkan kemenangan demi kemenangan mujahid terdahulu. pengorbanan memberikan keberkahan pribadi, keluarga dan masyarakat. pengorbanan yang menghadirkan wajah baru peradaban bangsa.

Di setiap periodeisasi kepahlawanan, Ada tuntutan dari Allah kepada setiap Kader Da’wah untuk merealisasikan makna pengorbanan itu dalam amal-amal nyata. Begitu pula dengan Kader KAMMI yang merupakan subset dari himpunan kader-kader da’wah yang Allah takdirnkan membawa umat ini kembali kepada Islam.

Ada beberapa bentuk kontribusi yang bisa kita berikan untuk Da’wah KAMMI
Kontribusi Jiwa
Kontribusi pemikiran merupakan ruh dari perjuangan da’wah KAMMI karena nilai KAMMI hidup bersama hidupnya pemikiran-pemikiran KAMMI di masyarakat. Da’wah KAMMI butuh pemikir-pemikir besar dan tulus, untuk kembali mengembalikan KAMMI kepada ruh Aslinya yang lebih mengedepankan Iman dibandingkan nalar.

Kontribusi Harta
Harta merupakan kekuatan sarana da’wah karena menggerakkan jalannya perjuangan ini. Dalam da’wah KAMMI kita diajarkan sunduquna juyubuna bahwa kegiatan da’wah KAMMI berasal dari saku kader-kader KAMMI sendiri tanpa pernah tergantung oleh hadirnya orang-orang yang menitipkan agenda “da’wah” kepada kendaraan da’wah ini.

Kontribusi Waktu
Waktu yang diberikan kepada da’wah KAMMI mestilah waktu utama bukan waktu sisa karena da’wah adalah prioritas dalam kehidupan da’I karena Waktu kita adalah umur kita dan waktu kita adalah kehidupan kita.

Kontribusi Jiwa
Kontribusi Jiwa merupakan totalitas dan puncak dari seluruh kontribusi karena refleksi kontribusi jiwa adalah jihad di jalan Allah. Dan para Kader KAMMI wajib berada dalam garda terdepan dalam jihad di jalan Allah untuk mengembalikan umat kepada -nilai illahiyyah, nuansa robbaniyah dan spirit nubuwah.

Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.
(At Taubah : 111)

KESADARAN EKSPEKTASI
Barang Siapa mati sedangkan ia belum pernah berjihad dan ia tidak bercita-cita untuk berjihad, maka kematiannya pada suatu kemunafikan”
(HR. Muslim)

Merenungkan kembali makna menjadi kader, pada akhirnya seperti menarik sebuah garis lurus untuk merenungkan kembali tentang ekspektasi kita ketika kita berada di dalam naungan da’wah KAMMI. Ekspektasi menjadi penting karena segalanya bisa berubah menjadi sangat hampa. Afiliasi menjadi kering. Dan kontribusi hanya menjadi parade keterpaksaan. Menjadi aktivis KAMMI tiba-tiba berubah menjadi keterlanjuran yang di sesali. Di sini mimpi-mimpi dan kerinduan tentang kebahagiaan, balasan dan kejayaan sangat perlu untuk terus ditata kembali.harapan-harapan jauh dan harapan-harapan dekat kita.

Tanpa nya Kader KAMMI akan seperti Zombie yang bergerak namun tidak memiliki ruh, ia seperti ayam yang kehilangan induknya, ia Seperti potongan-potongan puzzle yang indah, yang kadang sedikit tidak beraturan karena benturan atau goncangan

Tiada yang salah ketika kader KAMMI memiliki ekspektasi pribadi ketika ia berada “Di Bawah Naungan KAMMI”. Namun iya menjadi salah ketika organisasi ini menjadi saran untuk memuaskan hasrat keduniawiannya. Dan ia akan bertambah salah ketika Impiannya menjadi lebih Tinggi dibandingkan keputusan KAMMI bahkan ia akhirnya kecewa ketika impian-impiannya tidak tercapai. Kepada orang orang seperti ini maka Hasan Al Banna dalam Kitabnya Risalah Pergerakan Ikhwanul Muslimin I mengatakan

“Kasihanilah dirimu !, Kami tidak menjanjikan apa-apa, kecuali pahala dari Allah, jika anda ikhlas. Juga syurga, jika Allah mengetahui dalam diri Anda. Kami adalah orang-orang yang tidak memiliki popularitas dan miskin harta. Urusan kami hanyalah apa yang ada pada kami dan mengerahkan segala yang ditangan kami. Setelah itu kami mengharapkan keridhoan Allah Ta’ala, Dialah sebaik-baiknya pelindung dan sebaik baiknya penolong”
(Risalah Da’watuna)

Oleh karena itu kita perlu membuat ulang gambar tentang harapan di KAMMI hingga akhirnya utuh kembali. Begitu seterusnya kesadaran ekspektasi harus terus ditata dan dirapikan agar selalu tampak indah dan menggairahkan. Wallahu 'Alam


SEBUAH PENUTUP
Setiap kali realitas internal kita berubah maka realitas eksternal kita juga akan berubah. Suatu ketika mungkin kita tidak akan percaya bahwa narasi yang akan kita usung dalam Momen perjuangan kita adalah sebuah hal yang mungkin dicapai. Kita memang tidak mengatakan itu tetapi sikap-sikap kita menyimpulkan ketidakyakinan kita akan targetan-targetan yang ingin kita capai.

Inilah saatnya bagi kita untuk kembali membangun motivasi yang kuat untuk mengongkretkan narasi-narasi kita. Motivasi bukan sekedar kata-kata. Motivasi adalah soal keyakinan yang kuat, keyakinan yang akan melahirkan pikiran yang besar, dimana Sarana dan sumber daya selalu tunduk pada ide dan pikiran-pikiran tersebut . Begitu pula sebaliknya, ide yang besar dan pemikiran yang kuat, akan menciptaan sarana-sarananya sendiri, dengan cara-caranya yang unik. Karena itu, dalam pepatah Arab dikatakan, Barangsiapa bersungguh-sungguh, maka ia akan berhasil.

Alloh berfirman “Innallaah laa yughoyyiru maa biqoumin, hatta yughoyyiru maa bi anfusihim” – “Alloh tidak akan mengubah suatu kaum sebulum kaum itu yang merupahnya sendiri”. Dalam konteks perjuangan kita hari ini, kitalah yang akan menentukan nasib kita dimasa yang akan datang, kitalah yang memiliki kontribusi akan berhasil atau tidaknya kita dimasa yang akan datang.

Bahwa di dalam diri kita juga terus menguat spirit untuk terus bekerja dan bekerja. Dan bahkan dalam keberlanjutan kerja itulah terjadi proses menjadi baik, mendapat ampunan, dan diperbaiki oleh Allah. Bila kita terus bekerja, mungkin akan selalu ada yang salah. Tapi dengan terus bekerja itulah, Allah berjanji akan memperbaiki kesalahan kita. “Dan orang-orang beriman kepada Allah dan mengerjakan amal-amal yang shalih, serta beriman pula kepada apa yang diturunkan kepada Muhammad dan itulah yang haq dari Tuhan mereka, Allah menghapuskan kesalahan-kesalahan mereka, dan memperbaiki keadaan mereka.” (QS. Muhammad: 2).

Bangunan da’wah ini sudah sedemikian indah, PR dari kereta da’wah ini bukan pada tataran narasi lagi tapi dalam tataran aplikasi. Karena Da’wah bukan hanya retorika kata tapi juga retorika kerja. saatnya “KAMMI BERKERJA UNTUK DA’WAH”.
 

* Ketua BEM Jurusan Matematika 2008-2009
Ketua BEM Fakultas MIPA 2009-2010
Kepala Dept. Sosial Politik BEM UNJ 2010-2011
Kader KAMMI Komisariat UNJ

Maraji’
  1. Risalah Pergerakan Ikhwanul Muslimin I Karya Hasan Al Banna
  2. Ats Tsawabit Wal Mutaaghayyirat Karya Juma’ah Amin
  3. Mu’alim Fit Thoriq Karya Sayyid Qutbh
  4. Robohnya Da’wah di Tangan Da’I Karya Fathi Yakan
  5. Tidak Ada Alasan Bagimu meninggalkan Da’wah Karya Abdul Aziz Al Aidan
  6. Beginilah Jalan Da’wah Mengajarkan Kami Karya M. Lili Nur Aulia
  7. Nashat untuk Qiadah dan Kader Da’wah Karya Imam Santoso LC
  8. Mencari Pahlawan Indonesia Karya Anis Matta
  9. Menikmati Demokrasi Karya Anis Matta
  10. Kepribadian Da’I Karya Irwan Prayitno
  11. Artikel Merenungi (kembali) Makna Menjadi Kader Da’wah Oleh Abudzarr (Ketua KAMMI Daerah Jakarta)